Cuplikan ubuntu 10.04 Lucyd Lynx

cuplikan ubuntu 10.04 Lucyd Lynx sebelum di release yang rencana akan di release pada bulan April 29, 2010, ternyata ada perubahan yang lumayan dratis diantaranya

julukan “Linux for Human Being” (Linux untuk Umat Manusia) berubah menjadi “Ubuntu is Lightware” (Ubuntu itu Ringan) tema kali ini berubah menjadi light yang artinya ringan dan bercahaya
yang ke-dua logo ubuntu menjadi seperti ini 

boot splash [...]

Keluarga Besar UBUNTU

repost : http://mashendri.com/ubuntu-dan-keluarganya.html/
Hari gini siapa sich yang nggak kenal ubuntu…? Distro linux terlaris versi distrowatch.com ini ternyata memiliki banyak turunan dalam keluarganya. Tentunya Ubuntu tidak sembarangan membuat banyak sekali produknya tersebut, karena dari masing-masing produk tersebut memiliki keunggulan dan fungsinya masing-masing. Berikut perbedaan dan fungsi masing-masing produk ubuntu tersebut.
UBUNTU
Distro linux turunan dari [...]

Dedhi Purnama: unixtoolbox

tanya siapa?
Satu lagi nih gan ada ebook yang lumayan keren lah buat referensi belajar.Mulai dari yang paling sederhana semacam Basic Command, mengenai Sistem, Network, Programming dll. Langsung aja edot ===> unixtoolbox…
Basic basic command, dari yang paling sederhana mengenai sistem, network, Shell Script, Programming, dll. Dijamin ga nyesel download nih ebook. Penjelasan mengenai command command di teeminal [...]

Jan Peter: Curhat 1: Membangun Semantik dengan Menggunakan Ontologi

tanya siapa?

Ini adalah curhat saya. Maaf kalau mulai dari ini bahasanya amburadul dan kotor. (more…)

Fakhrul Rijal: Berbagi Pentingnya Migrasi

tanya siapa?

Artikel ini diketik dengan harapan dapat memberikan sedikit petunjuk mengenai strategi melakukan migrasi MS Windows ke Linux, terutamanya dalam hal Aplikasi Office dan File Server.

Latar belakang:

Mengapa membuang ratusan juta rupiah untuk lisensi bila tersedia solusi lisensi lain seharga Nol rupiah?

Semua manajemen perusahaan sudah saatnya sadar bahwa di tengah kondisi ekonomi dan persaingan bisnis yang semakin ketat, segala bentuk penghematan sebisa mungkin harus dilakukan. Dan juga kita ketahui, selama beberapa tahun terakhir ini Microsoft Indonesia dan rekannya BSA (Business Software Alliance) gencar mengejar-ngejar perusahaan di Indonesia untuk membayar lisensi atas penggunaan produknya.

Hal ini memang tidak dapat kita salahkan dan memang merupakan hak mereka sebagai pemegang hak cipta aplikasi tersebut. Namun seperti yang kita ketahui, lisensi paling murah dari MS Office basic yang hanya meliputi Word, Excel, dan Powerpoint adalah sekitar $150 dollar (atau Rp. 1,5 juta). Kalau misalkan sebuah perusahaan memiliki 10 PC, maka dia harus membayar sekitar Rp. 15 juta. Belum lagi lisensi OSnya seperti WinXP yang sekitar $140 dollar. Berarti total harga adalah sekitar Rp. 3 juta per PC, dikali 10 berarti Rp. 30 juta. Belum lagi lisensi servernya, CAL (client access license), dll. Bagi perusahaan menengah yang memiliki sekitar 100-300 PC, biayanya bisa mencapai milyaran rupiah!

Namun tentu saja, migrasi ini tidak semudah yang kita bayangkan. Perusahaan tetap perlu menimbang cost and benefit yang ada. Oleh karena itu, strateginya adalah:

  • Melakukan analisa penggunaan PC dan aplikasinya secara detail atas seluruh PC yang ada. Disini kita mesti melakukan inventory atas aplikasi-aplikasi apa saja yang selama ini digunakan.
  • Mana PC yang hanya digunakan untuk fungsi-fungsi administratif seperti mengetik, spreadsheet, dll.
  • Mana PC yang dipakai untuk menjalankan aplikasi tertentu. Aplikasi apa saja itu, platform dan bahasa pemrograman apa yang digunakan, dll.
  • Kemudian kita melakukan analisa deployment coverage. Di dalam analisa ini, kita melakukan penelitian terhadap seluruh PC yang ada.

Berdasarkan analisa di atas, kita buatkan juga analisa biayanya untuk kita persentasikan ke manajemen. Tentu alangkah baiknya bila seluruh PC dapat kita migrasi 100%, tapi dari pengalaman, hal ini sulit dicapai karena biasanya ada beberapa fungsi dari perusahaan yang sudah/sementara ini terlanjur terikat dengan produk Microsoft atau propietary lainnya. Menyedihkan memang.

Namun begitu, berdasarkan pengalaman, masih ada beberapa analisa yang harus dilakukan demi keberhasilan proses migrasi ini, yaitu:

  1. Perlu di test lebih mendalam lagi sampai sejauh mana kompabilitas aplikasi-aplikasi tersebut berjalan di dalam environment dosemu dan samba. Sebab tentunya sangat beragam fungsi-fungsi yang ada di dalam sebuah aplikasi, dan mungkin saja ada yang tidak berjalan dengan baik.
  2. Perlu diperiksa lagi sampai sejauh mana penggunaan fitur-fitur yang spesifik milik MS Office yang digunakan oleh user di dalam dokumen officenya. Sebab walaupun OpenOffice telah dapat mengakomodasi sebagian besar fungsi dan fitur dari MS Office, tetap saja tidak 100% compatible. Bila ternyata kita menemukan fungsi-fungsi yang tidak berjalan di OpenOffice, maka kita mesti memikirkan solusinya, apakah memang tidak dapat dilakukan sama sekali di OpenOffice, ataukah OpenOffice telah dapat melakukannya namun mesti dari file yang murni native dalam format OpenOffice.
  3. Dan yang tentunya tidak kalah pentingnya adalah melakukan backup terlebih dahulu terhadap semua file yang akan dipakai. Sehingga ketika sewaktu-waktu ditemukan masalah, maka versi awalnya masih ada.
  4. Hal terakhir yang saya alami juga penting adalah, memberikan pengertian kepada user, mengapa migrasi ini dilakukan. Berikan penjelasan yang dapat diterima user, dan juga bimbinglah dan sertai user di dalam menggunakan aplikasi yang baru tersebut.
  5. Berikanlah contoh perbandingan yang dapat dilihat langsung oleh user, misalnya untuk print di MS Office kita kan buka menu ini dan ini…, nah di OpenOffice kita bukanya menu ini dan ini…

Demikianlah kira-kira strategi atau lebih tepatnya pengalaman yang dapat saya bagi di dalam melakukan migrasi dari MS Windows ke solusi OpenSource atau GNU/Linux.

Semoga Bermanfaat.

©2010 Silakan kunjungi Layar Kosong untuk menanggapi, TerimaKasih.

.

Putu Wiramaswara Widya: Ubuntu Linux direbranding menjadi “Ubuntu is Lightware”

tanya siapa?

Kabar gembira bagi para Ubuntero semua. Pihak Ubuntu akhirnya mengubah secara dratis branding mereka, dari semua Linux for Human Beings kini menjadi Ubuntu is Lightware. Branding semua sudah digunakan Ubuntu sejak awal dirilis (tahun 2004) hingga sekarang (terakhir di rilis 9.10). Dan untuk rilis selanjutnya, Ubuntu akan mengubah moto-nya menjadi Ubuntu is Lightware.
Konsep ini sudah direncanakan oleh Mark Shuttleworth bersama tim kecilnya dari Canonical. Dikatakannya bahwa Human sudah digunakan selama sekitar 6 tahun, dan sekarang Ubuntu mengubah visinya dari menjadi Linux untuk Umat Manusia menjadi Ubuntu Linux yang sangat ringan dan efisien, dengan tema yang dinamakan Light.
OK, pengubahan branding ini juga akan mengubah baik Logo, Tema, Kesan, Penampilan, dsb. Dari bocoran yang saya peroleh dari blog omgubuntu.co.uk, saya akan memperlihatkan preview-nya untuk anda…

Sumber : https://wiki.ubuntu.com/Brand

 
Logo Ubuntu

  
Wallpaper default Ubuntu 10.04 LTS
Tema baru, light (versi gelap)
 
Tema light versi cerah

Bootsplash
 

Cover CD Ubuntu
 
Website www.ubuntu.com
 

Berbagai pernak-pernik dari Ubuntu
Secara umum, dari segi warna kesannya saat ini tidak lagi coklat tua, melainkan orange dan ungu. Keren. Bagaimana menurut anda? Saya belum tahu kalau update dari Ubuntu Lucid Testing sudah menerapkan kesemua ini. Jadi tunggu saja rilis akhirnya.

Aryo Seno: Script Bisnis Gratis

tanya siapa?

Kali ini saya mau men-share script bisnis yang biasa dijual. Namun disini saya tidak bertanggung jawab jika ada link yang rusak dan tidak dapat didownload. Karena disini saya hanya menshare saja. So yang butuh bisa langsung aja didownload..
1. Script Web Akademik
2. Script Iklan Baris 6
3. 50Script SMUO
4. Script SMUO 8
      Passwordnya

Untuk yang lainnya bisa dilihat di Sini

Rotua Damanik: Make Over Ubuntu, Logo dan Penampilan Baru

tanya siapa?

Ada berita yang cukup mengejutkan dari Ubuntu, setelah 6 tahun akhirnya Ubuntu melakukan sedikit make over pada logo dan tampilannya. Selain logo dan penampilan yang baru Ubuntu juga kini mendapat semboyan baru, jika dulu “Ubuntu for Human Beings” maka kini diubah menjadi “Ubuntu is Lightware”. Dengan pencitraan baru ini sepertinya Ubuntu ingin menekankan bahwa Ubuntu itu ringan dan bercahaya (light).

Coba perhatikan logo Ubuntu yang baru ini,

Selain logo, penampilan pada tema desktop Ubuntu juga berubah cukup drastis.

Dan masih ada beberapa perubahan lain pada unsur tampilan dan logo Ubuntu. Info selengkapnya silakan kunjungi wiki Ubuntu.

Btw, saya juga melakukan sedikit perubahan pada penampilan saya. Jika dulunya rekan-rekan mengenal saya dengan rambut gondrong maka kini saya sudah plontos.

Penampilan baruku

Bagaimana dengan penampilan baru Ubuntu dan saya??

Kurnia Ramadhani: Belum Bisa Ngonfig

tanya siapa?

Begitulah, sampai sekarang saya belum bisa mengonfig mail server saya. Jadi begini, defaultnya email yang masuk akan tersimpan di /var/mail. Ceritanya pengen tak pindah di home folder masing-masing. Biar nggak menuh-menuhin space maksudnya, kan partisi /home tak set gedhe soalnya.

Searching-searching ke mbah google, ternyata masih belum nemu solusinya. Ya udah, coba main logika aja. Directory mail yang ada di /var tak pindahin ke /home. Terus di /var tak buatin link simbolik ke directory mail yang udah dipindah di /home. Dan ketika dilakukan pengetesan, tara… ternyata berhasil. Yah, walaupun belum bisa dipindah ke home folder masing-masing user, tapi at least email sudah bisa dipindah ke directory /home. Jadi sudah tidak khawatir space penuh lagi. :-D Kesimpulannya, saya belum pintar mengonfig, jadi main logika aja deh. :-D

Jan Peter: New Ubuntu Look

tanya siapa?

Well, the new hype. :lol: I like the new Ubuntu Logo. It looks human-friendly enough for me. It really looks professional.I don’t like the theme and, especially, the new wallpaper. It kinda making us like mac-impersonator. We have our own theme. Take a look at Hardy’s wallpaper. That was a great wallpaper that made me never change wallpaper when I was on Hardy.